SUMBANG – Di tengah kesibukan mendidik generasi bangsa, para guru yang tergabung dalam PGRI Dabin 2 Korwilcam Dindik Sumbang sejenak menundukkan hati. Rabu (25/2/2026), ruang rapat Dabin 2 bertransformasi menjadi oase spiritual dalam gelaran Gebyar Ramadan, sebuah momentum untuk memperkuat imtak sekaligus mengisi ulang amunisi mental para pendidik.
Harmoni Sholawat dan Sentuhan Qalbu
Acara dibuka dengan syahdu melalui lantunan ayat suci Al-Qur’an, disusul gema lagu kebangsaan Indonesia Raya yang membangkitkan nasionalisme. Namun, suasana mendadak berubah haru saat siswa dari SD Negeri 4 Kotayasa tampil ke depan. Dengan jemari kecil yang memetik gitar dan suara jernih melantunkan Sholawat Jibril, mereka berhasil memukau hadirin, membawa nuansa Ramadan terasa begitu kental dan menyentuh palung hati.
Lima Pesan "Menyegerakan" dari Sang Ustaz
Memasuki inti acara, Ustaz Maulana Khoerul Ikhsan, S.Pd., menyampaikan tausiyah yang lugas namun mendalam. Ia mengingatkan para guru tentang lima perkara yang harus disegerakan agar hidup tak berujung sesal:
- Menyuguhkan hidangan bagi tamu.
- Mengurus pemakaman jenazah.
- Menikahkan anak gadis yang sudah siap.
- Melunasi hutang.
- Bertaubat seketika setelah khilaf melakukan maksiat.
Pesan ini menjadi cermin bagi para guru untuk kembali menata prioritas hidup, baik dalam urusan hamba kepada Tuhannya maupun antar sesama manusia.
Profesionalisme di Era Disrupsi
Koordinator Korwilcam Dindik Sumbang, Emi Linarni, S.Pd., dalam arahannya menekankan bahwa kesalihan spiritual harus berbanding lurus dengan kesalihan profesi. Di era yang serba cepat ini, ia berpesan agar ASN tetap memegang teguh tanggung jawab, menjaga tata krama, serta terus berinovasi.
"Guru harus adaptif dan melayani dengan hati. Profesionalisme kita adalah wajah pendidikan di Sumbang," tegasnya.
![]() |
Menjaga Marwah, Menjemput Surga
Menutup rangkaian acara, Ketua PGRI Cabang Sumbang, Widi Haryono, S.Pd.I., membakar semangat para peserta dengan pesan yang menguatkan. Di tengah stigma negatif yang terkadang dilemparkan masyarakat terhadap profesi guru, Widi mengingatkan bahwa mendidik adalah jalan panjang menuju surga.
Ia mengimbau agar para guru tidak terjebak dalam "demotivasi". Sebaliknya, guru harus tetap solid menjaga marwah profesi dan terus berkolaborasi. "Sebab, kekuatan kolektif kita adalah kunci kemajuan pendidikan," pungkasnya penuh optimisme.
Gebyar Ramadan ini bukan sekadar seremoni rutin, melainkan pengingat bahwa di balik tugas berat mencerdaskan bangsa, ada ruhani yang harus terus dijaga agar tetap menyala. Bersama kita bisa, bersama kita maju!
Kontributor : Tofik Hidayat







Posting Komentar