Sumbang, 25 Mei 2026 – Sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan kemampuan numerasi siswa Sekolah Dasar Fase A, BBGTK Jawa Tengah telah sukses menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Matematika Gembira pada tanggal 20 hingga 23 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini diikuti oleh guru-guru dari berbagai wilayah, termasuk Korwilcam Dindik Su⁶mbang, Kabupaten Banyumas.
Pelatihan ini dibuka secara resmi dengan rangkaian acara yang khidmat, dimulai dengan bacaan basmalah, menyanyikan lagu Indonesia Raya, laporan ketua panitia, hingga sambutan dari narasumber.
Dalam sambutannya, Wawan Budi Utomo, menyoroti kondisi numerasi Indonesia yang masih berada di bawah rata-rata internasional sejak tahun 2000. Ia menjelaskan bahwa peluncuran Gerakan Numerasi Nasional pada 19 Agustus 2025 menjadi langkah strategis, dan pendekatan GEMBIRA—akronim dari Gali dan Eksplorasi, Muat Konten, Buat Aktivitas, Ikuti pemikiran murid, Rayakan dan akhiri—adalah kunci utama untuk meningkatkan pemahaman siswa.
Sementara itu, Dr. Dian Fajarwati, M.Pd., menekankan pentingnya Pembelajaran Mendalam yang dikembangkan Kemendikdasmen. Pendekatan ini mengutamakan suasana belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, serta mengembangkan murid secara utuh melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga. Ada tiga prinsip utama yang diusung: Meaningfull (bermakna), Mindfull (berkesadaran), dan Joyfull (menyenangkan).
Materi Padat, Penuh Inspirasi dan Praktik
Selama empat hari, peserta dibekali berbagai materi mendalam yang disampaikan oleh narasumber ahli, mulai dari konsep dasar hingga penerapan praktis di kelas.
Hari Pertama, Mulyati memperkenalkan konsep Pembelajaran Mendalam sebagai penguatan dari praktik baik yang sudah dilakukan guru. Fokus utamanya adalah pengembangan karakter, keterampilan berpikir, dan pembiasaan refleksi dalam proses belajar.
Sementara itu, Siti Nur Janingsih, memaparkan prinsip Andragogi dan Growth Mindset, mengingat peserta adalah pembelajar dewasa yang membutuhkan materi relevan, praktis, dan berorientasi pemecahan masalah. Strategi penerapan matematika seperti pemberian umpan balik pada proses, penggunaan bahasa positif, dan pemberian tantangan terukur menjadi materi yang paling ditunggu.
Hari Kedua, Arif Agoestantoe membawakan materi Bermain Angka dengan Gembira. Peserta diajak mengeksplorasi konsep bilangan, penjumlahan, pengurangan, hingga pecahan sederhana dengan pendekatan kontekstual dan permainan tradisional seperti congklak dan ular naga.
Di sesi lain, Danang Tria Wibowo, S.Pd., menjelaskan cara mengenalkan konsep dasar aljabar melalui materi Bermain Simbol dan Pola. Guru diajak mengubah cara pandang terhadap tanda “sama dengan” dan mengenalkan pola lewat rutinitas harian agar murid paham maknanya, bukan sekadar menghafal. Hari ditutup dengan materi Bentuk di Sekitar Kita, yang mengajarkan geometri lewat budaya lokal seperti motif tenun, permainan engklek, dan rumah adat, berlandaskan teori perkembangan berpikir geometri Van Hiele.
Hari Ketiga, materi berfokus pada pengukuran dan analisis data. Melalui modul Jelajah Ukur, peserta belajar mengenalkan konsep ukur mulai dari alat tidak baku seperti jengkal dan langkah kaki, disesuaikan dengan tahap berpikir konkret murid Fase A.
Sementara itu, materi Berpetualang Bersama Data mengajak guru mengajarkan analisis data sederhana lewat konteks dekat murid, seperti jajanan favorit atau menu sarapan, agar matematika terasa relevan dengan kehidupan nyata.
Hari Keempat, kegiatan diisi dengan penjelasan teknis mengenai On the Job Training (OJT), In Service Learning 2, dan tahapan diseminasi. Kegiatan ditutup dengan pelaksanaan tes akhir, evaluasi menyeluruh, dan upacara penutupan yang dipimpin oleh Syukur.
Hasil Nyata dan Rencana Tindak Lanjut
Isnaeni, S.Pd.SD., guru dari SD Negeri 1 Sumbang yang turut berpartisipasi, menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan dan mengungkapkan rasa terima kasihnya. “Materi yang disampaikan sangat inspiratif dan bisa langsung diterapkan. Pendekatan GEMBIRA membuat kami sadar bahwa matematika tidak harus menakutkan, tapi bisa jadi pelajaran yang paling ditunggu murid,” ujarnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab keilmuan, tersusun pula Rencana Tindak Lanjut yang jelas. Mulai dari pendalaman materi, penyusunan perangkat ajar, praktik langsung di kelas, refleksi bersama rekan sejawat, hingga kegiatan diseminasi ke Kelompok Kerja Guru (KKG) di wilayah masing-masing pada Juni hingga Juli 2026 mendatang.
Kegiatan ini diharapkan menjadi tonggak perubahan pembelajaran matematika di Jawa Tengah. Melalui cara yang menyenangkan, kontekstual, dan berbasis budaya lokal, diharapkan kemampuan numerasi siswa Fase A akan meningkat signifikan, serta menciptakan generasi yang tidak hanya pandai berhitung, tetapi juga mencintai matematika.






Posting Komentar